Cerita Sri Tanjung

5 / 7
image

5.1. Dua Naskah dari Jawa Timur dan Bali


Orang pertama yang memperkenalkan cerita Sri Tanjung dalam bentuk buku adalah sarjana Indonesia Prijono. Bukunya berjudul Sri Tañjung: Een Oud Javaansch Verhaal yang ditulis dalam bahasa Belanda diterbitkan pada tahun 1938. Sebelum buku Prijono, telah ada dua manuskrip cerita tentang Sri Tanjung. Salah satunya adalah manuskrip lontar yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan dan dalam aksara Bali, yang ditemukan di Bali dan saat ini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Buku Prijono sebagian besar berisi transliterasi latin dan terjemahan manuskrip Bali oleh penulisnya; meskipun demikian, Prijono juga menggunakan beberapa manuskrip lain termasuk salinan kertas (lihat 6-3). Naskah cerita Sri Tanjung yang lainnya adalah manuskrip yang ditulis pada buku tulisan tangan yang ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Menariknya, buku ini ditulis dalam bahasa Jawa Baru namun menggunakan aksara Arab. Buku tersebut, yang juga disebut lontar Sri Tanjung di Indonesia, sebelumnya disimpan di Museum Blambangan di Jawa Timur, tetapi lokasi saat ini tidak diketahui. Naskah ini dipelajari oleh tim penelitian di Jakarta (Aminoedin et al., 1986) dan dalam bentuk e-book oleh peneliti Jawa Timur Wiwin Indiarti (Indiarti, 2020).


Kapan dan di mana cerita Sri Tanjung itu diciptakan? Saat ini, secara luas diyakini bahwa cerita tersebut berasal dari daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Buku Prijono merupakan salah satu sumbernya, namun klaim tersebut juga disandarkan kepada buku-buku karya peneliti Barat pada abad ke-19 (lihat 6-3). Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi asal usul cerita ini dari hanya dua sumber, yaitu dari Bali dan Jawa Timur. Sudah pasti bahwa cerita tersebut telah tersebar luas di masyarakat abad pertengahan di Jawa Timur dan Bali, dengan memiliki peranan penting dalam persepsi masyarakat lokal pada masa itu. Dari perspektif ini, penting untuk mengakui cerita Sri Tanjung sebagai salah satu warisan budaya periode Hindu Jawa abad pertengahan yang telah ditransmisikan dalam berbagai bentuk di setiap daerah.


5.2. Alur Cerita


Dalam karyanya tahun 1938, Prijono merangkum cerita Sri Tanjung dalam lontar Bali sebagai berikut, yang ditulis dalam bahasa Belanda dalam versi prosa.


  1. Sidapaksa, pengikut Raja Surakrama dari Kerajaan Sinduraja, mengunjungi tempat pertapaan Prangalas di kaki gunung. Atas perintah raja, ia mencari tanaman obat yang dapat menyembuhkan sakit kepala. Di sana, Sidapaksa terpikat oleh kecantikan Sri Tanjung, putri angkat resi Tambapetra, dan jatuh cinta padanya. Sebagai putri seorang dewi yang setengah bidadari dan manusia, Sri Tanjung hidup mendukung para resi di Prangalas. Sidapaksa melamar Sri Tanjung dan membawanya kembali ke ibu kota sebagai istrinya.
  2. Setelah itu, berita tentang Sidapaksa yang telah menikahi seorang wanita cantik jelita tersebar di seluruh kota. Raja Surakrama menjadi ccemburu dan merencanakan konspirasi terhadap Sidapaksa. Raja memerintahkan Sidapaksa untuk mendapatkan tiga harta karun dari para dewa di surga. Setelah menerima perintah ini, Sidapaksa bingung karena tidak tahu bagaimana melakukannya. Melihat kebingungannya, Sri Tanjung memberikan sebuah benda rahasia yang diwariskan oleh ayahnya di surga. Benda itu adalah kain ajaib yang dapat membuat seseorang terbang. Sidapaksa segera mengenakan kain itu dan berangkat ke surga. Mendengar bahwa Sidapaksa telah pergi, Raja Surakrama mengunjungi Sri Tanjung dan mencoba merayunya dengan berbagai cara. Namun, Sri Tanjung tetap menolaknya. Raja yang merasa terhina, kembali ke istana. Sementara itu, Sidapaksa yang telah tiba di surga berhasil mendapatkan tiga harta karun yang diinginkan raja dengan bantuan para dewa yang dikirim oleh resi Tambapetra, kakek Sri Tanjung. Sidapaksa kembali ke kota dengan rasa puas.
  3. Sidapaksa menemui raja dan memberikan tiga harta karun. Namun, alih-alih memuji prestasinya, raja justru berbohong bahwa Sri Tanjung tidak setia selama Sidapaksa tidak ada. Karena sangat terkejut, Sidapaksa bergegas pulang dan menyalahkan Sri Tanjung, lalu memerintahkan istrinya untuk kembali ke gunung. Sri Tanjung terus membantah bahwa dirinya tidak bersalah, dan akhirnya memohon kepada Sidapaksa untuk membunuhnya jika cinta mereka harus berakhir dalam kesengsaraan.
  4. Tak menemukan jalan keluar, mereka pergi ke Gandamayu, sebuah kuburan di tengah hutan. Sri Tanjung berlutut dan menitipkan kata-kata terakhirnya kepada Sidapaksa: "Jika aku tidak bersalah, darahku akan harum". Setelah Sri Tanjung tewas tertusuk belati/kris Sidapaksa, darahnya yang mengalir dari tubuhnya memancarkan bau harum. Menyadari dosanya yang tak termaafkan, Sidapaksa pun menangis tersedu-sedu.
  5. Saat arwah Sri Tanjung mencapai alam baka, hal pertama yang dilihatnya adalah sungai besar. Ketika Sri Tanjung kebingungan, seekor buaya putih berkepala setan mendatanginya. Sri Tanjung berkata, "Aku tidak tahu cara menyeberangi sungai ini, jadi tolong beri tahu aku". Buaya itu menjulurkan kepalanya keluar dari air dan menjawab, "Aku akan menjadi jembatan besi untukmu". Saat Sri Tanjung menyeberangi sungai dan mencapai pintu masuk ‘jembatan goyang’, buaya itu langsung pergi. 
  6. Saat Sri Tanjung dengan hati-hati menyeberangi ‘jembatan goyang’, ia melihat binatang-binatang mengerikan dari dunia bawah dan banyak jiwa-jiwa berdosa yang menderita di neraka abadi. Dengan gemetar ketakutan, ia mencapai gerbang Dorakala, Ratu Dunia Bawah. Namun, Dorakala, yang mengetahui tentang kematian Sri Tanjung yang tidak bersalah, menawarkan belas kasihan. Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti teka-teki, Dorakala kagum dengan kecerdasan Sri Tanjung yang memberikan jawaban yang memuaskan. Akhirnya, Dorakala mengirim jiwa Sri Tanjung kembali ke bumi, sambil berkata, "Kamu seharusnya belum mati".
  7. Jiwa Sri Tanjung kembali ke tubuhnya di hutan Gandamayu. Tiba-tiba, seorang dewi yang menguasai Gandamayu muncul dan berkata, "Dahulu kala, ayahmu diikat di pohon dan hampir mati, tetapi dia mengambil kembali sosok asliku dariku dalam wujud jelek (Note)", dan menghidupkan kembali tubuh Sri Tanjung. Dihidupkan kembali dengan kecantikan yang lebih hebat, Sri Tanjung kembali ke kampung di Prangalas ditemani oleh pelayan sang dewi, Kalika. Dalam reuni yang penug dengan air mata, Sri Tanjung menceritakan seluruh kisah yang dialaminya kepada keluarganya, termasuk Tambapetra. Dengan simpati yang mendalam, Tambapetra melakukan ritual pemurnian untuk Sri Tanjung dengan sepenuh hati. Hasilnya, Sri Tanjung menjadi lebih cantik dari sebelumnya dan tak tertandingi oleh bidadari lain di surga.
  8. Sementara itu, Sidapaksa yang putus asa karena rasa bersalahnya, mengunjungi Gandamayu, tempat ia menghabiskan saat terakhirnya bersama Sri Tanjung. Ia kemudian berbaring di hutan gelap, menunggu kematian dan mempersembahkan hidupnya bagi arwah Sri Tanjung. Dewi gandamayu yang sangat kasihan melihat keadaannya, muncul di hadapan Sidapaksa. Dewi tersebut memberi tahu Sidapaksa tentang kebangkitan Sri Tanjung dan kembalinya Sri Tanjung ke Prangaras. Dewi menyampaikan pesan Sri Tanjung, "Aku akan bersama Sidapaksa lagi jika Raja Surakrama terbunuh". Sidapaksa yang kaget dan tersadar, segera berangkat ke Prangaras setelah memberikan penghormatan yang tinggi kepada Dewi Gandamayu.
  9. Sri Tanjung terkejut mendengar kedatangan Sidapaksa. Ia menangis di kamar tidurnya dengan perasaan yang campur aduk antara cinta dan keadilan. Akhirnya, ia berkata kepada Tambapetra melalui ibunya, Sri Wani, "Ketika aku bisa menginjakkan kaki di kepala raja, aku akan menemuinya lagi". Mendengar hal ini dari Tambapetra, Sidapaksa memutuskan untuk menghadapi kejahatan Raja Surakrama yang telah mengkhianatinya dan istrinya. Ia memanggil para resi dan dewa-dewi Prangaras, lalu terbang ke kota dengan kain ajaib.
  10. Setelah pertempuran yang sengit, Sidapaksa dan pasukannya akhirnya mengepung istana. Raja Surakrama kemudian mengakui kekalahan dan dipenggal. Mereka membungkus kepala raja dengan kain kuning dan meletakkannya di dalam peti mati. Desas-desus bahwa Sidapaksa akan menjadi raja berikutnya menyebar di seluruh kota.


Terkait naskah Sri Tanjung dari Banyuwangi di sebuah buku tulisan tangan yang ditulis dengan huruf Arab, tim peneliti di Jakarta yang diwakili oleh Aminoedin memberikan informasi yang rinci. Penelitian mereka mengungkap bahwa alur ceritanya serupa dengan versi Bali, meski terdapat beberapa perbedaan, seperti adopsi konsep-konsep Islam (Aminoedin et al. 1986). Di sisi lain, banyak versi masa kini dalam lakon Jawa (ketoprak) dan buku gambar menghilangkan atau mengubah adegan akhir yang kejam. Cerita Sri Tanjung tidak mengandung adegan khas seorang pria menyembunyikan kain bidadari ketika dia sedang mandi seperti dalam legenda Stolen Clothing. Namun, mengingat serangkaian deskripsi di mana Sri Tanjung adalah seorang putri bidadari dan memberikan kain ajaib kepada suaminya, cerita ini tetap dikategorikan sebagai salah satu legenda bidadari.


(Note) Hal ini diduga berkaitan dengan cerita Sudamala yang berkembang di Jawa Timur dan Bali pada masa Majapahit. Cerita ini dimulai dengan kisah Dewi Uma yang berubah wujud menjadi Durga, seorang penyihir dari Gandamayu, akibat murka Dewa Siwa. Dewi Uma akhirnya kembali ke wujud aslinya yang cantik berkat kekuatan Sadewa (putra bungsu dari keluarga kerajaan Pandawa) yang dipersembahkan sebagai tumbal. Karena Sadewa menikahi salah satu putri Resi Tambapetra, diduga Sri Tanjung adalah putri Sadewa. Selain itu, meskipun nama ‘Durga’ tidak benar-benar digunakan dalam cerita Sri Tanjung, tokoh ‘Kalika’ hadir sebagai pembantu Durga dalam cerita Sudamala (Kalika adalah penyihir yang menemani Sri Tanjung saat ia kembali ke rumah dalam versi cerita tersebut). Akan tetapi, “kain terbang sebagai pusaka Sri Tanjung” dalam cerita Sri Tanjung tidak benar-benar muncul dalam cerita Sudamala. Meski masih terdapat beberapa ketidakpastian, cerita Sri Tanjung diasumsikan sebagai kelanjutan dari cerita Sudamala oleh ahli bahasa Van der Tuuk, yang pertama kali mengumpulkan naskah Sri Tanjung dari Bali, dan Prijono, yang menyalinnya ke dalam sebuah sebuah buku (van der Tuuk, 1881; Prijono, 1938).


5.3. Transmisi Cerita Sri Tanjung: Daerah dan Gaya


Kisah Sri Tanjung tertuang dalam dua naskah: sebuah buku tulisan tangan di Jawa Timur dan sebuah lontar yang ditemukan di Bali. Secara umum, kisah ini diyakini berasal dari daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Oleh karena itu, kota Banyuwangi memiliki ‘Taman Sri Tanjung’ dan menyelenggarakan Festival Banyuwangi tahunan untuk menampilkan tari dan lakon dari kisah Sri Tanjung. Nama Sri Tanjung juga digunakan untuk rangkaian kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dan Banyuwangi.


Di Jawa, bentuk seni pertunjukan yang paling umum untuk cerita Sri Tanjung adalah teater populer yang disebut ketoprak. Mengenai naskah/buku yang ditulis dalam bentuk puisi/lirik berirama dalam huruf Arab yang diteliti oleh tim Aminoedin, tampaknya telah dikontekstualisasikan kembali setelah Islamisasi Jawa untuk melantunkan kidung (lagu ritual) peninggalan Hindu-Jawa dalam acara-acara Islam. Namun, masih ada aspek-aspek yang perlu diteliti lebih lanjut entang konteks budaya dan pelakunya.


Dalam kasus Bali, mengikuti tujuan awal naskah lontar, teks cerita Sri Tanjung dalam bentuk metris telah dibacakan sebagai kidung dalam ritual Hindu Bali. Akan tetapi, saat ini cerita tersebut kurang dikenal di Bali karena naskah aslinya disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan buku Prijono yang ditulis dalam bahasa Belanda tidak dapat dipahami oleh penduduk lokal Bali. Di sisi lain, menurut wawancara di Gianyar pada tahun 2018, cerita tersebut pernah dipentaskan beberapa kali dalam teater populer Bali (arja) pada tahun 1960-an. Saat ini, orang dapat menonton beberapa video di YouTube yang menampilkan para pemain lokal membacakan cerita Sri Tanjung dalam gaya puisi bebas yang disebut geguritan.


Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa cerita Sri Tanjung belum sepenuhnya terlupakan di Bali, dan masih memiliki potensi untuk dihidupkan kembali dalam berbagai bentuk sesuai konteks zaman. Proyek ‘Cara Menyanyikan Pupuh Wukir/Adri’ pada tahun 2023 (lihat Bagian 7) merupakan upaya penggalian memori kisah tersebut di Bali. Video hasil proyek ini, yang memadukan lirik Sri Tanjung dalam bentuk kidung Bali dengan teater anak-anak, telah dipublikasikan di YouTube. Hal ini dapat menjadi media untuk menghidupkan kembali cerita tersebut dalam berbagai bentuk seni pertunjukan Bali di masa yang akan datang.


5.4. Penggambaran pada Relief-Relief di Candi


Indonesia memiliki berbagai monumen kuno yang terutama terdapat di pulau Jawa, umumnya disebut ‘candi’ sebagai warisan budaya pra-Islam. Dua contoh yang terkenal adalah situs Warisan Dunia UNESCO Borobudur dan Prambanan yang terletak di dekat Yogyakarta, persisnya di Jawa Tengah. Sementara itu, beberapa candi di Jawa Timur diyakini menggambarkan isi cerita Sri Tanjung pada reliefnya, seperti Candi Penataran di Blitar, Candi Bajang Ratu di Mojokerto, Candi Surowono di Kediri, dan Candi Jabung di kabupaten Probolinggo (lihat Google My Map).


Adegan Sri Tanjung di Candi Penataran tidak terdapat di candi induk, melainkan di dinding pendopo teras berbentuk persegi panjang (Foto 5-1) dekat pintu gerbang. Di sana tergambar seorang perempuan di tepi air, menunggangi seekor ikan besar, berhadapan dengan seorang laki-laki yang duduk bersila di pinggir sungai (Foto 5-2). Candi Bajang Ratu juga disebut-sebut terkait dengan cerita tersebut (Foto 5-3), meski sulit dikenali karena letak reliefnya di dinding yang tinggi. Relief di Candi Surowono (Foto 5-4 dan 5-5) menggambarkan seorang perempuan yang menoleh ke belakang menunggangi seekor ikan, meskipun tanpa tokoh laki-laki seperti pada Candi Penataran. Sedangkan relief Candi Jabung (Foto 5-6, 5-7) juga menggambarkan sosok perempuan yang serupa dengan relief Candi Surowono . Ikan yang digambarkan pada relief Candi Surowono adalah yang terbesar di antara ikan-ikan lainnya, mengingatkan kita pada ‘ikan berwajah setan’ yang digambarkan dalam lontar (lihat bagian 5-2).


Namun, interpretasi ini masih perlu ditelusuri lebih dalam. Ketika saya menghadiri kuliah tentang relief candi yang disampaikan oleh seorang ikonografer di Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2018, seorang peserta lokal mengajukan pertanyaan: "Saya tidak yakin mengapa relief yang menggambarkan seorang wanita menunggangi ikan terkait dengan cerita Sri Tanjung, karena naskahnya menyebutkan bahwa Sri Tanjung menggunakan buaya sebagai jembatan untuk menyeberangi sungai". Pertanyaan ini persis dengan pertanyaan yang juga saya ajukan, namun pembicara tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Faktanya, hal ini sesuai dengan naskah Sri Tanjung Bali yang ditranskripsikan oleh Prijono, di mana adegan-adegan di No. 121 dan 122 Bab 5 menyebutkan kata bajul (buaya) dalam bahasa Jawa Pertengahan (Prijono 1938: 36-37).


Masih belum jelas bagaimana gambar-gambar dalam relief tersebut dikaitkan dengan cerita Sri Tanjung. Sejauh pengetahuan penulis, karya Satyawati Suleiman berjudul Monuments of Ancient Indonesia pada tahun 1967 adalah yang pertama kali mengidentifikasi wanita di atas ikan dalam relief di Candi Penataran sebagai adegan dalam cerita Sri Tanjung. Namun, sangat mungkin bahwa interpretasi ini dianut oleh para filolog dan arkeolog kolonial sejak awal. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi kembali interpretasi tersebut, apakah penggambaran wanita itu benar-benar dari cerita Sri Tanjung atau dongeng lain yang juga tersebar luas di Jawa Timur pada abad pertengahan. Tidak mengherankan jika gambar simbolis itu memiliki signifikansi besar dalam kosmologi saat itu, karena menghubungkan dua alam, air dan darat, yang dimediasi oleh seorang wanita yang menunggangi seekor ikan.


5-1 Pendopo Teras di Candi Penataran(Blitar)


5-2 Gambar Sri Tanjung pada relief Pendopo Terras di Candi Penataran


5-3 Candi Bajang Ratu(mojokerto)


5-4 Candi Surowono(Kediri)


5-5 Gambar Sri Tanjung pada relief Candi Surowono



5-6 Candi Jabung(Probolinggo)


5-7 Gambar Sri Tanjung pada relief Candi Jabung